Pengertian
dan Hukum Nikah
Pernikahan adalah merupakan sunnah Rosululloh SAW,berdasarkan
hadits dari Aisyah RA.
عَنْ عائِشَةَ قالت: قال رسول الله صلّى الله عليه
وسلّم : النّكاحُ مِنْ سُنَّتِي فَمَنْ لَم يَعْمَل بسُنَّتي فليْسَ مِنّي (رواه
ابن ماجه)
“Dari ‘Aisyah RA beliau berkata : Bersabda
Rosulullloh SAW ; Nikah adalah Sunnahku,barangsiapa yang tidak mengamalkan
sunnahku maka bukan bagian dariku(bukan ummatku).”(HR Ibnu Majah)
Juga berdasarkan sabda Rosululoh
عَنْ أنَسِ بْنِ مالك رضي الله عنه أنّ النّبِيَّ
صلّى الله عليه وسلّم حَمِدَ اللهَ وأثْنَى عليه وقال : لكِنّي أنا أُصَلّي وأنامُ
وأَصومُ وأفْطُرُ وأتَزَوَّجُ النّساءَ فمن رَغِبَ عن سُنَّتي فليسَ مِنِّي (متفق
عليه)
“Dari Anas bin Malik RA bahwa Rosululloh SAW memuju kepada Alloh
dan menyanjung Nya seraya berkata : Tetapi aku sholat,aku shaum,aku berbuka,dan
aku menikahi perempuan,barangsiapa yang yang tidak menyukai sunnahku maka bukan
bagian dariku(bukan ummatku)”(Muttafaq ‘Alaih).[1]
Dalam tulisan ini kita akan membahas dua hal,yaitu pengertian
Nikah dan Hukum Nikah.
I.
Pengertian
a. Menurut Abu Bakar Jabir Al Jazairi
النّكاحُ أو الزّواج,عقدٌ يُحلّ لكّلٍّ من الزّوجين الإستمتاعَ بصاحبه
Ta’rif Nikah adalah :
suatu aqad yang menghalalkan bagi pasangan laki laki dan perempuan untuk
mendapatkan kenikmatan dengan pasangannya[2].
b. Menurut Zainuddin Abdul Aziz Al Malibary
النّكاحُ لُغَةً هو الضَّمُّ والاجْتِماعُ وشَرْعًا عَقْدٌ يَتَضَمَّنُ
إباحَةَ وَطْءٍ بلفْظِ إنْكاحٍ أو تجْويْجٍ
Nikah
menurut bahasa adalah Sekedar berkumpul,sedangkan menurut Syara’ adalah aqad
yang mengandung hukum membolehkan melakukan persetubuhan dengan ucapan
menikahkan dan mengawinkan[3]
II.
Hukum Nikah
Nikah
disyari’atkan dalam Islam berdasarkan
Ø
Firman Alloh QS An Nisaa : 3
وَإِنْ خِفْتُمْ
أَلاَّ تُقْسِطُواْ فِي الْيَتَامَى فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء
مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُواْ فَوَاحِدَةً أَوْ
مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّ تَعُولُواْ (النّساء:3)
“Dan
jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang
yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang
kamu senangi : dua, tiga atau empat.”
Ø
An Nur : 32
وَأَنكِحُوا
الْأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن
يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ
عَلِيمٌ(النّور:32)
“Dan
kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak
(berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang
perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya.
Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
Ø
Hadits Muttafaq Alaih
عَنْ عبد الله بْنِ
مسعود رضِيَ الله تعالى عنه قال: قال لنا رسول الله صلّى الله عليه وسلّم : يَا
مَعْشَرَ اَلشَّبَابِ ! مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اَلْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ,
فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ , وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ , وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ
فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ; فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ(مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)
“Dari Abdullah bin Mas’ud
RA berkata : Rosululloh bersabda kepada kami : Wahai para generasi
muda,barangsiapa diantara kamu mampu berkeluarga,hendaklah kawin,sebab ia dapat
memejamkan mata dan menjaga kesucian farji.Barangsiapa tidak mampu hendaklah ia
berpuasa,sebab ia dapat melemahkan Syahwat.(Muttafaq ‘Alaih)”[4]
Ø
Hadits Riwayat Ahmad
وَعنه قال : كان رسو
ل الله صلّى الله عليه وسلّم : يأمُرُنا بالبَاءَةِ ويَنْهى عن التّبَتُّل نهيًا
شديدًا,ويقولُ : تَزَوَّجُوا اَلْوَدُودَ اَلْوَلُودَ إِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ
اَلْأَنْبِيَاءَ يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ(رَوَاهُ أَحْمَدُ , وَصَحَّحَهُ اِبْنُ
حِبَّانَ)
Dari dia(Anas
bin Malik),dia berkata : Rosululloh memerintah kami kawin dan sangat melarang
membujang(tidak mau menikah dengan alasan ingin fokus beribadah) dengan
larangan yang sangat keras,dan Beliau bersabda : Kawinlah dengan wanita yang
subur dan penuh kasih sayang,sebab dengan jumlahmu yang banyak aku merasa
bangga dihadapan para Nabi pada hari kiamat(HR Ahmad,Shohih menurut Ibnu
Hibban).[5]
Dari keterangan keterangan diatas maka para Ulama menyimpulkan
bahwa hukum Nikah ada beberapa hukum,yakni :
1.
Wajib,bagi orang yang mampu secara
finansial tetapi dia tidak mampu mengendalikan syahwatnya,sehingga dia khawatir
dirinya terjerumus kepada perbuatan maksiat.[6]
2.
Sunat,bagi orang yang mampu secara
finansial dan dia mampu mengendalikan syahwatnya,sehingga dia tidak takut terjerumus
kepada perbuatan maksiat[7],atau
bagi orang yang membutuhkan penyaluran syahwat,walaupun dia disibukkan dengan
ibadah Mahdhoh.[8]
[1]
Bulughul Marom no 994,hal 413 penerbit “ PUSTAKA ILMU” Surabaya.
[2]
Minhajul Muslim hal 301,cet Maktabatul Ulum wal Hikam,Madinatul Munawwaroh
[3]
Fathul Mu’in juz 3 hal 254,cet Maktabah Usaha Keluarga,Semarang
[4]
Bulughul Marom no 993,hal 413 penerbit “PUSTAKA ILMU” Surabaya.
[5]
Ibid,no 995
[6]
Minhajul Muslim,Ibid.
[7]
Minhajul Muslim,Ibid.
[8]
Fathul Mu’in,juz 3 hal 255,cet Usaha Keluarga Semarang.